Mutiara Hidup

Jul 3rd, 2008 | By admin | Category: Lain-Lain

Sepulang tugas mengantar rombongan keluarga temen Umroh, saya dan temen-temen pulang dengan perasaan senang.Di perjalanan pulang menuju kantor mengendarai mobil Kijang Kapsul, temen melihat ada buku bacaan tepat di saku jok kursi supir, kemudian membacanya. 44 Mutiara Hidup judul bukunya, lalu beberapa saat kemudian teman saya pun menyodorkan buku itu, dan meminta untuk membaca pada halaman tertentu.



Hati saya terenyuh saat selesai membaca halaman tersebut, di mana isinya menceritakan kisah seorang anak yang ingin meminta kepada ayahnya untuk menemaninya barang waktu se-jam saja untuk makan malam bersama.

Kutipan cerita itu menggambarkan bahwa betapa seorang anak butuh perhatian orang tua di saat-saat kesibukan rutin orang tuannya.

Ceritanya seorang anak sedang menunggu ayahnya pulang kerja, karena kesibukan seorang ayah berakibat selalu pulang pada malam hari bahkan lewat dari jam pulang kantor pada umumnya. Suatu waktu saat ayahnya pulang, si anak terbangun karena kecapaian menunggu ayahnya. Dan si anak langsung menghampiri ayahnya, “Selamat malam, Ayah ?.” Malam jawab ayahnya singkat, karena kepenatan dan kelelahan sepulang kerja. Lalu si anak kembali bertanya, “Bolehkan aku bertanya kepada ayah ?”, dalam keadaan yang sedang tidak bersahabat (baca tidak mud), si ayah terlihat berat menjawab boleh. Apa yang ingin kau tanyakan malam-malam begini, nak ? tanya ayah. Spontan si anak dengan senang tersenyum, lalu berkata “Berapa penghasilan ayah perjam dari bekerja ?”. Di tanya seperti itu si ayah pun agak naik pitam, karena dipikirnya ini adalah pertanyaan bodoh.

Kemudian sekali lagi dengan nada kesal ayahpun geram menjawab 20 ribu per jam. Lalu si anak pun dengan pertanyaan lanjutan, “Ayah, bolehkah aku meminta uang 10 ribu ?”. Lagi-lagi si ayah tidak menerima dengan permintaan si anak, tidak lama si ayah marah dan menyuruh si anak ke kamar untuk tidur karena hari sudah malam.

Di tengah amarahnya si ayah mengomel kalau tidaklah pantas kau minta uang sebesar itu, apakah uang jajanmu tidak cukup ?, tanpa rasa bersalah si ayahpun terlihat panik karena marah. Selang waktu si anak bersedih dan di dalam kamar tidurnya menangis tersedu, karena ayahnya telah memarahinya sekaligus tidak memahaminya. Tapi si anak pun tidak membalas benci kepada ayah.

Beberapa waktu kemudian, si ayah ada perasaan menyesal telah memarahi anaknya, dan berfikir mungkin anakku ada keperluan yang mendesak, mungkin aku tidak menyadarinya. Akhirnya si ayahpun mendatangi si anak di kamar tidurnya, mengetuk pintu terlebih dulu lalu masuk. Nak, kau belum tidur ? tanya si ayah. “Belum, ayah” jawab anak, karena memang si anakpun tidak dapat tertidur pulas. Ayahpun meminta maaf, lalu memeluk si anak kemudian mengabulkan dengan memberi uang 10 ribu rupiah, ini uang yang kau pinta, nak. “Hore hore.. si anak gembira dan memeluk ayahnya, lalu si anak membalikkan bantalnya untuk mengambil uang yang selama ini telah di kumpulkan.

Melihat perbuatan si anak, ayahpun terpaksa jengkel karena merasa di permainkan, tapi sebelum si ayah memarahinya kembali, si anak langsung berkata, “Aku berhasil mengumpulkan uang 20 ribu rupiah, ayah.” Lalu uang itu di berikan kepada ayahnya, dan berkata “Ayah, izinkan aku membeli waktumu barang se-jam, makan malamlah bersamaku besok.”

Tags: , , ,

One comment
Leave a comment »

  1. saya seperti anak itu…

Leave Comment