Kisah Nyata Pacar Rekan Kerja [2]
Sampai di Jakarta, tujuan pelarian diri, Mama baru menyadari kalau anaknya tidak pulang dan memberi tahu kepada Papa, sebelumnya Papapun telah di sms bahwa anak satu-satunya sudah di Jakarta. Temen rekan kerja pun sudah menanti di Bandara Soekarno Hatta, lalu menemani pacarnya ke tempat saudara Papanya. Sehari dua hari, Papa terus menerus menelpon temen saya, keluarganya yang di Jakarta, meminta untuk membujuk anaknya pulang ke rumah, tapi tidak juga membuahkan hasil.
Akhirnya mau tidak mau temen kerja sayapun harus berperan cantik, agar menyakinkan Papa, tidak usah khawatir, karena di sini anaknya akan nyaman, dan tidak akan terjadi apa-apa. Tentu saja negoisasi temen saya harus mengalahkan ego Papa. Karena kedekatan temen kerja saya itu dengan orang tua pacarnya, akhirnya Papa mau mengalah, dan berjanji tidak memaksa anaknya, dengan catatan tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga.
Hari demi hari, minggu demi minggu, suasana keteganganpun berubah menjadi suasana keakraban, saya merasa senang kalau urusan keluarga ini dapat berujung baik. Tidak ada hal-hal yang penting menjadi catatan bagi saya, karena kebiasaan orang tua sayang kepada anak tidak hilang, walaupun Mama baru masih menjadi momok. Kegiatan Papa mencari bahan-bahan butik di Jakarta untuk di jual di kampung menjadi jembatan untuk bertemu anaknya satu bulan sekali. Tidak ada masalah walaupun pertemuannya tidak di rumah.
Suatu waktu, Mama kandung yang berada di Pontianak mengetahui kabar anaknya lari dari rumah, dan berada di Jakarta. Akhirnya berjuang mendapatkan kontak dengan anak kandungnya, Mama menelpon saudara-saudara mantan Suaminya dan menyakinkan bahwa anaknya ada di Jakarta. Setelah benar dan yakin, orang tua juga mendapatkan nomer handphone anaknya, sempat terjadi komunikasi dan membuat kesepakatan bertemu di Jakarta.
Saya tidak sanggup menatap, menahan perasaan haru, ketika pacar temen saya bertemu Mama kandungnya. Mama menumpahkan kebahagian dengan isak tangis, begitu juga anak, Bandara Soekarno Hatta menjadi saksi bisu, keluarga dari pihak mantan Suami pun turut menyaksikan. 12 Tahun lamanya tidak bertemu, Syukurlah dalam hati saya, suasana haru ini tidak akan terlupa dalam ingatan saya.
Kebahagian yang tidak bisa saya ungkapkan di sini, betul-betul belum pernah saya lihat, anugrah Tuhan ada di suasana itu, merekapun tidak menyia-nyiakan waktu yang sangat beharga itu. Dan sayapun hanya bisa menulis sebagian kisah nyata ini di elwara untuk berbagi kepada pembaca elwara. Sampai jumpa di kisah yang lain. Salam Hangat.

August 24th, 2008 at 11:49 am
Ass, mas fadlan gimana kabarnya? umi ga ngerti cara betulin blog umi yg da ga karuan mas, kasih tau dong caranya gimana mas?