Dinamika Pejalan Kaki di Jakarta

May 9th, 2008 | By admin | Category: Lain-Lain, Obrolan, Opini Masyarakat, Pengalaman




Bismillahirrohmanirrohiim.

Sebagai warga Jakarta yang Alhamdulillah telah menetap hampir 40 tahun, belum banyak nampaknya yang saya rasakan sebagai pengguna sarana jalan kaki yang mengalami perkembangan dalam sikap khususnya menjaga sarana dan prasana kota oleh warga Jakarta, agar Jakarta tetap bersih dan nyaman.

Saya teringat ketika 30 tahun lalu, daerah saya terbebas dari ancaman menyengat tumpukkan sampah yang ditimbun. Ketika itu saya harus berangkat ke sekolah dasar dengan berjalan kaki. Saya harus selalu menutup hidungku dari bau yang menyengat yang terhembus dari tumpukkan sampah tersebut. Alhamdulillah peristiwa tersebut tidak memakan puluhan tahun, tempat sampah tersebut telah dibersihkan. Selepas pembersihan tempat pembuangan sampah di atas, daerahku pun kemudian dibuatkan tanggul di aspal yang dapat berfungsi selain sebagai penyanggah air dari kali grogol agar tidak meluap dan tumpah ke daerah pemukiman di sisi kali tersebut juga dapat berfungsi untuk mempersingkat jalan bagi warga ke daerah sekitarnya (seperti ke pasar dan ke jalan raya Kyai Tapa-Grogol untuk mendapatkan bus trayek dalam kota) serta untuk berolah raga pagi.

Hingga kini tanggul itupun masih berfungsi walaupun area-nya sendiri sudah semakin dipadati oleh pengguna jalan dan pengendara ranmor, pedagang-pedagang kaki lima serta warga yang tinggal di sekitarnya.

Kini dalam kesempatan memasuki usiaku yang ke-40 saya pun tidak mendapatkan perubahan yang signifikan (minjam bahasa Jarwo Kuat, komedian layar kaca) malah cenderung sebaliknya. Kini wilayah kami pun sudah menjadi akrab dengan daerah yang selalu kebanjiran, dan kebersihan serta kenyamanannya sudah mulai kembali tidak terjaga. Perkembangan yang terakhir ini yang membuat saya semakin sedih di dalam melihat kondisi lingkungan sekitar.

Peristiwa banjir yang semasa hidupku dulu aku pernah merasakan terjadi dalam kurun 5 s/d 10 tahunan kini nampaknya sudah hampir menjadi pemandangan keseharian yang sewaktu-waktu dapat terjadi hanya disebabkan oleh fluktuasi turun hujan yang kini semakin tidak teratur akibat pengaruh “Global Warming” dan “Penggundulan Hutan” secara tidak langsung.

Disamping kini pembangunan wilayah perkotaan semakin dikejar oleh konsep pembuatan Mal-Mal dan Apartemen Pencakar Langit yang membuat wilayah resapan air semakin berkurang. Kini saya pun mendapatkan sarana transportasi jalan dan trotoar yang mulai rusak. Dalam hati saya bingung (red-untung saya langsung pegangan) dan …. sedih, serta “malu” melihat perkembangan ini.

Aku merasa bahwa bangsaku yang sudah merdeka hampir 63 tahun sejak Agustus 1945 lalu namun untuk menjaga sarana dan menciptakan lingkungan yang bersihpun terus terang bangsaku masih tertinggal jauh dari bangsa dan negara tetangga/jiran. Perkembangan yang saya lihat nampaknya cenderung didominasi oleh pembangunan fisik oleh para pemodal besar walaupun terlihat dan terdengar juga ada pembangunan gedung yang dipergunakan untuk kepentingan umum (red- masyarakat ekonomi menengah ke bawah).

Dalam hati saya berusaha memaklumi keberadaan wilayahku, yang secara geografis adalah wilayah yang sangat strategis dan sangat komersial, dikarenakan wilayah dimana saya lahir dan tinggal ini merupakan salah satu wilayah yang ramai dan langsung bersentuhan dengan wilayah propinsi lain, yakni Propinsi Banten, yang juga adalah pintu gerbang masuknya saudara-saudaraku dari pulau lain, seperti Sumatera dan negara lain melalui pelabuhan Merak dan bandara Soekarno Hatta sehingga hal ini menjadikan wilayah saya ini menjadi daerah yang sangat plural dan majemuk dalam komunitas dengan segala usaha/bisnisnya.

Kondisi di atas menjadi permasalahan yang haruslah dihadapi sebagai suatu tantangan perkotaan dan harus diantisipasi dan disadari. Terus terang permasalahan masyarakat seperti maraknya pengedaran narkotika, merebaknya kegiatan yang melanggar “etika agama sosial dan kemasyarakatan” telah marak terdengar dan dikhawatirkan terus mewabah dan penyakit ini pun bisa menjadi bahan laten dalam komunitas seperti wilayah kami.

Melihat kondisi geografis di atas memang mendorong wilayah saya menjadi tempat terjadinya kontak dan komunikasi yang pada dasarnya diharapkan dapat menyumbangkan bagi perkembangan daerah yang baik dan lebih maslahat ke depannya, baik dari segi rohani maupun jasmani.

Namun sangat disayangkan, perkembangan yang terjadi cenderung mengarah ke arah sebaliknya (disapresiasi/degradasi terhadap nilai luhur agama dan kemasyarakatan-red astaghfirullah). Kondisi ini dikhawatirkan akan mendominasi apabila tidak diantisipasi seluas mungkin. Bukan tidak mungkin wilayah Jakarta pada umumnya dan wilayah kami (Jakarta Barat) menjadi target terjadinya kejahatan-kejahatan yang berdimensikan transcities, transregional dan bahkan transnasional.

Dalam pemberitaan beberapa lalu pun saya mendengar terdapat beberapa penggerebekan pabrik narkotika/zat berbahaya seperti ekstasi di wilayah dekat wilayah kami (Tanggerang). Padahal daerah tersebut ketika itu pernah saya dengar dan baca lembaga peradilan pernah menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepada pelaku kejahatan jenis ini. Saya lupa tahunnya.

Kembali dalam perenungan ku terhadap atmosfir sarana bagi perjalan kaki, saya semakin merasakan kesedihan melihat ketidak berdayaan diri di dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan wilayah ini karena dalam kaca mata saya (bisa saja saya salah) yang nampak adalah lunturnya sikap kolektif di dalam menjaga lingkungan ini, (red-lingkungan yang sehat).

Nampaknya kita semua terokupasi oleh tuntutan duniawi (kesibukan diri) yang menyita dan seakan-akan sangat disayangkan kalau kita ini tidak bisa meraih tuntutan duniawi itu sehingga kecenderungan yang ada adalah sikap kurang kesadaran secara kolektif tadi.Namun semua itu adalah pengamatan saya saja yang mungkin “terobsesi” oleh berita dan sedikit pengalaman saya ketika saya berjalan di dalam suasana kota yang hijau dan bersih.

Yang pasti kondisi ini sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama yang bermula dari kesadaran diri-diri warga dan juga kesungguhan semua aparat untuk senantiasa memberikan penyuluhan dan memaksimalkan fungsinya serta tetap memberikan contoh terhadap sikap yang peduli lingkungan dengan tetap menjalankan fungsi pengawasan yang ketat dan hikmah terhadap pendatang-pendatang guna menghindari adanya kecolongan dari warga kota atau pendatang yang disebabkan oleh godaan duniawi bertujuan untuk merusak kenyamanan dan kebersihan serta keamanan warga dan wilayah kota.

Mudah-mudahan dengan semakin dewasanya masyarakat negeri ini yang Insya Allah akan memasuki usian Republikya yang ke-63 tahun, warga dan masyarakat Indonesia semakin sadar untuk menjaga kenyamanan dan kebersihan serta keamanan kotanya dari segala bentuk gangguan yang dapat merusak nilai dan moral warga dan masyarakat kota yang pada dasarnya adalah cinta dengan keindahan dan kebersihan, dan tentunya juga menjunjung nilai-nilai luhur agama. Mudah-mudahan Allah SWT mengangkat warga dan wilayah kita pada khususnya, dan Jakarta serta Indonesia pada umumnya menjadi warga dan wilayah yang bersih lahir dan batin. Amin. Wallahu a’lam bi shawab.

(* Dituturkan oleh M. Amar Ma’ruf: Pengurus Buletin Media Ilmu “al-Qalam wa Ulil Al-Bab” Yayasan Pendidikan/YP Al-Chasanah-Jakarta Barat dan YP Kesatuan)

Perlu di ketahui, YP Al-Chasanah dan YP Kesatuan adalah Yayasan yang di dirikan oleh H.M. Yoesoef Effendy, S.H. (Putra Banten) anak dari H. MAS MUCHAMMAD SYA’RANI


Tags: , , , , , ,

Leave Comment