Cerita Pulang Mudik, Wanita Pemberani
Ini yang gue benci, harus pulang ke Jakarta kembali ke aktifitas rutin, kerja dan menikmati padatnya kota Jakarta. Mengakhiri waktu liburan di sudut kota Pulau Jawa yang suasana alam masih terasa sejuk, sedikit polusi udara.
Sialnya, tiket pulang ke Jakarta pun sudah tidak bisa di pesan mendadak. Alhasil mundur dari jadwal pulang yang seharusnya sudah harus kerja, karena gue terpaksa naik Bus yang itupun bukan bus yang seharusnya di operasikan atau bus tambahan.
Jadi bagi rekan-rekan yang mudik menggunakan jasa armada darat atau bus. Ini ada info dan tips sedikit.
1. tiket Bus tambahan biasanya no. Tiket dengan no. Kursi tidak sama. Jadi Kita harus teliti dan berusaha tidak bertukar tempat duduk yang mungkin tidak nyaman bagi Anda.
2. tiket Bus tambahan pun harganya kadang-kadang bisa di negoisasi untuk dapet kursi di depan. Jadi Kita harus teliti dan berusaha bertanya sejelas-jelasnya terlebih dulu.
3. jangan pernah lengah, karena bisa saja orang tidak dikenal mau berniat jahat.
Tapi gue senang, mendapat teman duduk yang menceritakan pengalamannya waktu mudik.
Sebut saja Rere wanita berusia 32 Tahun, nama yang di samarkan mulai menceritakan pengalamannya..
Rere yang bekerja di Jakarta terpaksa mudik mengendarai Motor Vario sendiri dengan waktu tempuh 2 hari, karena permintaan calon suami yang berada di sudut kota pulau Jawa untuk datang. Padahal Rere sudah mengatakan kepada calon suami kalau dia belum libur lebaran. Karena di tempat ia bekerja tidak memberikan cuti bersama, dan tetap masuk sampe tanggal 30 September 2008.
Tapi si calon suami tetap meminta Rere datang untuk membicarakan masalah persiapan pernikahannya.
Dengan rasa cinta, dan panik. Tentu saja Rere tidak mau melewatkan, apalagi ini calon suami yang memintanya. Tidak berfikir panjang, Rere memutuskan untuk mengendari motor varionya sendiri ke pulau jawa. Itupun tanpa sepengetahuan si calon suami. Apalagi orangtua. Karena menurutnya kalau ijin pastilah tidak dikasih ijin. Karena dulu Rere pernah kecelakaan motor.
Rere menikmati perjalanan, mengambil jadwal pagi untuk berangkat dari Jakarta dan istirahat di hotel atau penginapan malam harinya. Berbekal makan dan minum yang sedikit waktu memulai perjalanan yang akhirnya jatuh di jalan tanpa Rere ketahui atau rasakan. Geli sendiri kata Rere kalau ingat kejadian itu. Di jalan pun tidak berjalan mulus karena harus kesasar lantaran ikutan konfoi yang tidak satu arah. Satu demi satu kendaraan melaju ke arah tujuan yang berbeda, tinggallah Rere sendiri yang bingung.
Lalu setelah tanya sana tanya sini, akhirnya Rere menemukan jalan menuju kampung calon suaminya. Tapi jujur katanya, Rere udah ga kuat. Kepala saya mendadak pusing dan rasanya keram semua anggota tubuhnya. Mungkin Tuhan masih sayang sama saya menurutnya. Dia merasa melihat rumah yang depan rumahnya itu mirip rumah calon suaminya. Tak tahan dengan pusing dan keramnya tiba-tiba saja sudah tidak sadar, dan terjatuh di depan rumah yang terlihat samar-samar karena pusing. Motor variopun terjatuh, yang menghebohkan warga setempat.
Beberapa warga mendekati untuk menolong, dan bertanya-tanya. Karena wargapun baru melihat kedatangan orang yang mungkin tidak dikenal, apalagi plat nomor motornya B.
Tapi bener, mungkin Tuhan masih sayang menurut saya. Ternyata Calon mertua kaget sewaktu membuka helm Rere, bahwa ini calon mantunya.. Mulailah rasa haru dan tidak bisa di gambarkan betapa sedihnya calon mertua. Sampai waktu Rere tersadar, calon suaminya pun sempat stress dan membenturkan kepalanya ke dinding menurut cerita calon mertuanya. Dan calon suami pun meminta maaf dan berjanji tidak memaksa untuk hal-hal yang mendadak.
The End. hehehe
Semoga bahagia yach. Tuh, jangan di ulang lagi yach.
Salam elwara

October 24th, 2008 at 7:16 am
wew… wanita perkasa tuh